Kamis, 24 Januari 2013

PSIKOLOGI PENDIDIKAN



PSIKOLOGI PENDIDIKAN
MAKALAH
“Diajukan untuk memenuhi tugas Pengantar Pendidikan”
Disusun oleh :
Kelompok IV
1.    Ainun Selvi Sudrajat
2.    Lestari Ayu
3.    Nida Romadhona
4.    Susrini Devi


LOGO UNSWAGATI.jpg












PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI
2012

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan karunia dan  rahmat-Nya kepada sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan baik. Atas izin Allah akhirnya tersusun makalah yang berjudul “Psikologi Pendidikan” yang ditujukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pengantar pendidikan.
Dengan demikian penyusun mengucapkan terimakasih kepada:
1.    Prof.Dr.Hj.Mintarsih Danumihardja M.Pd. selaku dosen pembimbing mata kuliah Pendidikan Agama Islam yang telah memberikan ilmu-ilmu dan pengetahuannya.
2.    Kepada orang tua kami.
Penulis mohon  maaf yang sebesar-besarnya jika dalam penulisan makalah ini terdapat kesalahan-kesalahan dan kekurangan. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca. Terimakasih.

Cirebon, Desember 2012


Penulis






DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.......................................................................................................... i
DAFTAR ISI......................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN.................................................................................................... 1
A.    Latar Belakang........................................................................................................... 1
B.     Rumusan Masalah...................................................................................................... 2
C.     Tujuan........................................................................................................................ 2
BAB II PEMBAHASAN..................................................................................................... 3
A.    Pengertian Psikologi Pendidikan............................................................................... 3
B.     Ruang Lingkup Psikologi Pendidikan....................................................................... 4
C.     Peranan Psikologi Pendidikan di Sekolah................................................................. 6
D.    Manfaat Psikologi Pendidikan bagi Guru.................................................................. 7
BAB III PENUTUP.............................................................................................................. 12
A.    Kesimpulan................................................................................................................ 12
B.     Saran.......................................................................................................................... 12
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................................... 13

BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Perkembangan individu merupakan suatu proses perubahan terus menerus sepanjang hidup individu yang bersangkutan. Perkembangan ini merupakan perpaduan antara tenaga-tenaga asli dari dalam diri individu itu an tenaga dari luar (lingkungan). Dari kedua tenaga yang disebutkan tadi terdapat dua kemungkinan yangakan terjadi pada individu, kedua tenaga tersebut dapat menjadikan individu itu berkembang dengan lancar tanpa gangguan yang disebut dengan perkembangan positif, atau berkembang dengan penuh gangguan dan disebut dengan perkembangan negatif.
Pada diri manusia baik anak-anak maupun orang dewasa terdapat gejala-gejala kejiwaan hal ini tentu saja erat kaitannya dengan psikologi. Dalam gejala kejiwaan terdapat sensasi dan persepsi, yang pada keduanya terdapat perbedaan. Setiap anak mempunyai kelebihan atau kekuatan-kekuatan tertentu dan juga tentu saja kekurangan atau kelemahan. Hal ini tentu perlu digali agar perwujudan diri dan semua bakat dan kemampuan pada anak dapat dikembangkan. Orang tua dan guru dapat membantu anak dalam memenuhi kebutuhannya akan perwujudan diri. Pengembangan pribadi anak akan dapat diperoleh melalui proses belajar di mana proses belajar ini akan dapat meningkatkan kepribadian dan berupaya untuk memperoleh hal-hal baru yang dapat memperbaiki dan meningkatkan kontradiksi-kontradiksi dalam hidup.
Dengan demikian perkembangan adalah hasil dari faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kehidupan individu yang bersangkutan selama hidupnya. Kedua hal tersebut tergantung dari bagaimana individu itu menanggapi dan dipengaruhi pula oleh bagaimana lingkungan menyajikannya.
Dengan melihat latar belakang di atas, penulis mencoba memaparkan permasalahan tentang perkembangan individu.

B.       Rumusan Masalah
1.    Apa yang dimaksud dengan psikologi pendidikan ?
2.    Apa saja yang menyangkut dengan ruang lingkup psikologi pendidikan ?
3.    Peran apa untuk psikologi pendidikan di sekolah ?
4.    Manfaat apa saja dalam psikologi pendidikan bagi guru ?

C.      Tujuan
1.    Memahami tentang pengertian pendidikan.
2.    Mengetahui ruang lingkup psikologi pendidikan.
3.    Mengetahui peranan psikologi pendidikan disekolah.
4.    Mengetahui beberapa manfaat dalam psikologi pendidikan bagi guru.























BAB II
PEMBAHASAN


A.      Pengertian Psikologi Pendidikan
Psikologi Pendidikan adalah cabang dari ilmu psikologi yang mengkhususkan diri pada cara memahami pengajaran dan pembelajaran dalam lingkungan pendidikan.
Keberhasilan seorang guru dalam mengajar sangat berkaitan dengan penguasaan sains serta seni dan keahlian mengajarnya.
Psikologi pendidikan merupakan sumbangsih dari ilmu pengetahuan psikologi terhadap dunia pendidikan dalam kegiatan pendidikan pembelajaran, pengembangan kurikulum, proses belajar mengajar, sistem evaluasi, dan layanan konseling merupakan serta beberapa kegiatan utama dalam pendidikan terhadap peserta didik, pendidik, orang tua, masyarakat dan pemerintah agar tujuan pendidikan dapat tercapai secara sempurna dan tepat guna.
Psikologi Pendidikan, menurut sebagian ahli adalah subdisiplin psikologi dan bukan psikologi itu sendiri. Para ahli menganggap bahwa psikologi pendidikan tidak memiliki konsep, teori dan metode tersendiri.
Menurut Arthur, psikologi pendidikan adalah sebuah subdisiplin ilmu psikologi yang berkaitan dengan teori masalah kependidikan yang berguna dalam hal-hal sebagai berikut : 1). Penerapan prinsip-prinsip belajar didalam kelas, 2). Pengembangan dan pembaruan kurikulum, 3). Ujian dan evaluasi bakat dan kemampuan, 4). Sosialisasi proses-proses dan interaksi tersebut dengan pendayagunaan ranah kognitif dan 5). Penyelenggaraan pendidikan keguruan.
Sedangkan psikologi pendidikan secara sederhana menurut Barlow (1985) adalah sebuah pengetahuan berdasarkan riset psikologi yang menyediakan serangkaian sunber untuk membantu melaksanakan tugas sebagai seorang guru dalam proses belajar mengajar secara lebih efektif. Definisi psikologi pendidikan yang dikemukakan oleh Barlow tersebut lebih memberikan tekanan pada sekitar proses interaksi antara guru sebagai pengajar dan siswa sbagai objek yang belajar didalam kelas.
Sementara psikologi pendidikan menurut Tardif (1989) , adalah sebuah bidang studi yang berhubungan penerapan pengetahuan tentang perilaku manusia untuk usaha-usaha kependidikan mencakup :
1.        Context of teaching and learning (berhubungan dengan situasi dan tempat terjadinya proses belajar dan mengajar).
2.        Process of teaching and learning (berhubungan dengan tahapan-tahapan dalam proses belajar mengajar).
3.        Outcomes of teaching and learning (berhubungan dengan hasil-hasil yang dicapai dalam proses belajar dan mengajar).

Definisi ini menekankan bahwa psikologi pendidikan adalah studi sistematis tentang proses-proses dan faktor-faktor dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidikan manusia.
Berdasarkan dari berbagai definisi tersebut, maka psikologi pendidikan mempunyai dua objek riset dan kajian, yaitu :
1.        Siswa, yaitu individu yang sedang belajar, termasuk pendekatan strategi, faktor yang mempengaruhi dan prestasi yang dicapai.
2.        Guru, yaitu individu yang berkewajiban atau bertugas mengajar termasuk metode, model strategi dan lain-lain yang berhubungan dengan penyajian materi pelajaran (Syah, 2000).

B.       Ruang Lingkup Psikologi Pendidikan
Pada dasarnya, manusia sejak dalam kandungan, secara tidak langsung telah dididik oleh orang tua, misalnya masalah pengendalian emosi dari orang tua. Pendidikan ini tidak pernah terhenti bahkan berlanjut hingga sampai anak dilahirkan. Pendidikan tergantung pada masing-masing individu. Namun demikian, bila kita menarik sebuah kesimpulan bahwa tujuan pendidikan adalah terjadinya suatu perubahan tingkah laku kearah lebih maju dan untuk mengembangkan potensi-potensi secara maksimal yang telah dimiliki oleh individu.
Pendidikan dapat pula diartikan sebagai suatu usaha sadar, sengaja dan bertanggung jawab yang dilakukan oleh seorang pendidik atau guru terhadap anak didiknya ke tarafnya yang lebih maju. Pendidikan sebagai suatu produk meliputi semua perubahan yang berlangsung sebagai hsil partisipasi individu dalam pengalaman-pengalaman belajar. Oleh karena itu, dalam tujuan pendidikan tidak terleps dari tingkah laku atau perbuatan individu, sehingga merupakan jembatan atau titik temu antara psikologi dan pendidikan.
Psikologi pendidikan dalam hal ini adalah disiplin ilmu psikologi yang secara khusus mempelajai, meneliti dan membahas seluruh tingkah laku manusia yang terlibat dalam proses pendidikan yang mliputi : tingkah laku belajar-mengajar, tingkah laku mengajar dan tingkah laku belajar-mengajar (interaksi antara siswa dan guru) (Smith. S dalam Dalyono,2001).
Namun ini persoalan psikologis dalam psikologi pendidikan adalah terletak pada siswa, tanpa mengabaikan persoalan psikologi guru. Dan pendidikan pada hakikatnya adalah pelayanan yang khusus diperuntukkan bagi siswa. Oleh karena itu, ruang lingkup pokok bahasan dari psikologi pendidikan, selain dari teori-teori  psikologi pendidikan sebagai ilmu, psikologi pendidikan juga memperhatikan berbagai aspek psikologis para siswa terlibat dalam proses belajar mengajar.
Berdasarkan pernyataan tersebut, maka banyak ahli merumuskan ruang lingkup psikologi pendidikan antara lain adalah:
1.        Pokok bahasan mengenai “belajar” meliputi teori-teori, prinsip-prinsip, dan ciri-ciri khas perilaku belajar siswa dan sebagainya.
2.        Pokok bahasan mengenai “proses belajar” meliputi tahapan perbuatan dan peristiwa yang terjadi dalam kegiatan belajar siswa.
3.        Pokok bahasan mengenai “situasi belajar” yakni suasana dan keadaan lingkungan baik bersifat fisik maupun nonfisik terutama yang berhubungan dengan kegiatan belajar siswa. (Dalyono (2001)).

Berdasarkan dari uraian pokok-pokok bahasan tersebut, menjadi sangat jelas bahwa masalah belajar (learning) adalah masalah yang paling vital dan sentral dalam pembahasan psikologi pendidikan. Dari seluruh proses pendidikan, kegiatan belajar siswa merupakan kegiatan yang paling pokok. Hal ini berarti bahwa berhasil atau tidaknya tujuan pendidikan, tergantung pada proses belajar siswa, baik ketika di dalam kelas maupun di luar kelas.
           
Salah satu aplikasi psikologi sebagai ilmu adalah dalam pendidikan, di samping bidang-bidang lainnya seperti psikologi sosial, psikologis klinis, psikologi perkembangan, psikologi industri, psikometri dan lain-lain.

C.      Peranan Psikologi Pendidikan di Sekolah
Menurut Crow dan Crow (1987), bahwa pendidikan terbagi atas dua, yaitu : Pendidikan Formal dan Pendidikan Informal.
1.        Pendidikan Formal
Yang dimaksud pendidikan formal adalah pendidikan yang didapat dari belajar yang mempergunakan program terencana, biasanya disebut pendidikan sekolah. Para ahli psikologi dan pendidikan tentu saja tidak meremehkan pendidikan informal, akan tetapi mereka beranggapan bahwa nilai kegunaan prinsip-prinsip psikologis adalah usaha untuk membantu anak-anak atau orang dewasa mendapat pengalaman-pengalaman dari pendidikan formal.
Guru adalah seorang pendidik di sekolah, dan sebagai seorang pendidik perlu menggunakan hasil-hasil penyelidikan psikologi dalam tugasnya, sehingga dapat memahami anak didiknya dan dapat mencari jalan keluar dalam suatu permasalahan yang dihadapi peserta didik.
Selain itu, psikologi pendidikan sebagai bagian dari studi psikologi, berysaha sejauh mungkin untuk lebih berhasil dalam memformulasikan tyujuan pendidikan, penyusunan dan kurikulum dan pengorganisasian proses belajar mengajar.
Oleh karena itu, menurut Suryobrata (dalam Rumini, 1993) psikologi pendidikan disekolah berusaha memecahkan masalah-masalah sebagai berikut:
a.         Pengaruh pembawaan dan lingkungan atas belajar.
b.        Teori dan proses belajar.
c.         Hubungan antara taraf kematangan dengan taraf kesiapan belajar.
d.        Perbedaan individu dan pengaruhnya terhadap hasil pendidikan
e.         Perubahan batiniah yang terjadi selama belajar.
f.         Hubungan antara tekhnik mengajar dan hasil belajar.
g.        Teknik efaluasi yang efektif antar  kemajuan yang dicapai anak didik.
h.        Perbandingan hasil pendidikan formal dan pendidikan informal atas individu.
i.          Nilai sikap ilmiah terhadap pendidikan yang dimiliki para petugas pendidikan (guru)
j.          Pengaruh kondisi sosial anak didik atas pendidikan yang diterima.

2.        Pendidikan Informal
Pendidikan informal adalah pendidikan yang didapat dari belajar yang secara relatif kurang atau tanpa disadari, yang berlangsung bebas menyertai kehidupan sehari-hari.


D.      Manfaat Psikologi Pendidikan bagi Guru

Guru sebagai pengajar, perlu memiliki beberapa hal sebagai syarat mengajar dengan baik, agar tujuan pendidikan tercapai. Guru hanya sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi pendidikan di sekolah di samping faktor yang lain seperti : faktor murid, faktor sekolah sebagai sistem sosial, sekolah sebagai institusi dan faktor-faktor situasional.
Berikut ini duraikan masing-masing faktor tersebut secara singkat :
1.        Faktor Murid terdiri dari :

a)        Faktor psikis

1.         Intelegensi Siswa
Intelegensi pada umumnya dapat diartikan sebagai kemampuan psikofisik untuk menanggapi rangsangan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan , dengan cara yang tepat.
Tingkat kecerdasan atau intelegensi siswa tidak dapat diragukan lagi, sangat mempengaruhi tingkat keberhasilan siswa.
Oleh karena itu, tindakan yang dipandang lebih bijaksana yaitu dengan cara memindahkan siswa dan memberikan tempat bagi yang mempunyai kemampuan intelegensi tinggi agar memberikan pendidikan khusus guna memberikan kepada siswa  yang mempunyai intelegensi rendah.
2.      Sikap Siswa
Sikap adalah gejala internal yang berdimensi afektif berupa kecenderungan untuk mereaksi atau merespons dengan cara yang relatif tetap terhadap objek orang, barang dan sebagainya, baik secara positif maupun negatif. Siswa yang positif terutama kepada mata pelajaran yang disajikan, merupakan pertanda awal yang baik bagi proses awal belajar siswa terhadap mata pelajaran yang dapat menimbulkan kesulitan.
Dalam istilah kecenderungan, terkandung pengertian arah tindakan yang akan dilakukan seorang berkenaan dengan suatu objek, dan arah tersebut bersifat mendekati dan menjauhi dan dilandasi oleh perasaan penilaian individu yang bersangkutan terhadap objek tertentu.
3.      Bakat Siswa
Secara umum, bakat adalah kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang. Secara global bakat itu mirip dengan intelegensi, sehingga bakat akan dapat mempengaruhi tinggi rendahnya prestasi belajar bidang-bidang tertentu.
4.      Minat Siswa
Secara sederhana, minat berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. Minat dapat diekspresikan melalui pernyataan yang menunjukkan bahwa siswa lebih menyukai partisipasi dalam suatu aktivitas.
5.      Motivasi Siswa
Pengertian dasar motivasi ialah keadaan internal organisme, baik manusia ataupun hewan, yang mendorong untuk berbuat sesuatu. Dalam pengertian ini, motivasi berarti pemasok daya untuk bertingkah laku secara terarah.
Implikasi motivasi untuk bidang pendidikan yang lain adalah dalam hal memotivasi pelayanan. Pelayanan yang dimaksud adalah proses memberi bantuan dengan sepenuh hati kepada konsumen dengan menyisihkan waktu untuk memahami orang lain dan peduli terhadap perasaan mereka.
Teori ini banyak dikembangkan antara lain oleh Patricia Patton yang mengatakan bahwa pelayanan sepenuh hati adalah kecerdasan emosional yang berfokus kepada memanusiakan manusia. Bahwa motivasi adalah proses pemenuhan secara langsung dan memerlukan intensi harmonis.

b)        Faktor Fisiologis
faktor-faktor fisiologis adalah faktor-faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik individu. Faktor-faktor ini dibedakan dua kategori yaitu :
pertama, keadaan tonus jasmani. Keadaan tonus jasmani pada umumnya sangat mempengaruhi aktivitas belajar seseorang.
Kedua, keadaan fungsi jasmani atau fisiologis selama proses belajar berlangsung. Peran fungsi fisiologis pada tubuh manusia sangat mempengaruhi hasil belajar, terutama panca indera. Dalam proses belajar, merupakan pintu masuk bagi segala informasi yang diterima dan ditangkap oleh manusia. Oleh karena itu, baik guru maupun siswa perlu menjaga panca indera dengan baik, baik secara preventif maupun secara yang bersifat kuratif. Dengan menyediakan sarana belajar yang memenuhi persyaratan, memeriksakan kesehatan fungsi mata dan telinga secara periodik, mengkonsumsi makanan yang bergizi dan lain sebagainya.

2.        Faktor Guru
Dalam hal ini meliputi semua efektivitas guru dalam proses mengajar.
3.        Faktor Sosial di Sekolah antara lain :

a)         Lingkungan sosial sekolah, seperti guru, administrasi dan teman-teman sekelas dapat mempengaruhi proses belajar siswa. Hubungan harmonis antara ketiganya dapat menjadi motivasi bagi siswa untuk belajar lebih baik disekolah.
b)        Lingkungan sosial masyarakat, kondisi lingkungan masyarakat tempat tinggal siswa akan mempengaruhi belajar siswa.
c)         Lingkungan sosial keluarga, lingkungan ini sangat mempengaruhi kegiatan belajar. Ketegangan keluarga, sifat-sifat orang tua, demografi (letak rumah), pengelolaan keluarga  semuanya dapat memberi dampak  terhadap aktivitas belajar siswa.

4.        Faktor Lingkungan non Sosial atau Situasional
a)         Lingkungan alamiah, seperti kondisi udara segar, tidak panas dan tidak dingin, sinar tidak terlalu silau atau tidak terlalu lemah, suasana yang sejuk dan tenang. Lingkungan alamiah merupakan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi aktivitas belajar siswa .
b)        Faktor instrumental, yaitu perangkat belajar yang dapat digolongkan dua macam pertama, hardware seperti gedung, lapangan olahraga, dan lain sebagainya. Kedua, software seperti kurikulum sekolah, peraturan-peraturan sekolah, buku panduan, silabus dan sebagainya.
c)         Faktor materi pelajaran (yang diajarkan kesiswa)
Faktor ini hendaknya disesuaikan dengan usia perkembangan siswa. Begitu juga dengan metode mengajar guru, disesuaikan dengan kondisi perkembangan siswa. Karena itu, dapat memberikan konstribusi yang positif terhadap aktivitas belajar siswa, maka guru harus menguasai materi pelajaran dan berbagai metode mengajar yang dapat diterapkan sesuai dengan kondisi siswa.

Sedangkan menurut Mahmud (1989), agar guru mengajar bisa efektif maka ada beberapa hal yang harus di tempuh, yaitu 1. Langkah sebelum mengajar. 2. Langkah ketika pelaksanaan mengajar dan 3. Langkah sesudah mengajar.
Adapun langkah-langkah tersebut akan dibahas dibawah ini.
1.        Langkah sebelum mengajar, yaitu :
·           Menentukan tujuan pengajaran atau pembelajaran.
·           Memilih strategi mengajar dan mengumpulkan bahan-bahan pengetahuan untuk mengajar.
·           Guru harus menyadari tingkat kesiapan murid.
·           Merencanakan cara penilaian.

2.        Langkah pelaksanaan mengajar
Langkah ini meliputi strategi-strategi yang telah dirancang agr tercapai tujuan pengajaran. Langkahnya adalah komunikasi, kepemimpinan, motivasi, dan kontrol.

3.        Langkah sesudah mengajar
Langkah ini berupa pengukuran dan penilaian hasil mengajar.
Menurut Winkel (dalam Rumini dkk. 1993), agar guru dapat mengajar dengan efektif, maka harus memiliki keterampilan didaktis dan menggunakan gaya-gaya memimpin kelas, oleh karena itu guru harus bertindak sebagai :
·           Seorang inspirator.
·           Seorang pendidik yang baik, bersikap empati yitu berusaha menyelami alam pikiran dan perasaan siswa.
·           Seorang pengelola proses belajar yang mampu.
·           Seorang pemegang reinforcement yang bijaksana.
Namun sebelum menjadi seorang guru, maka ada beberapa persiapan yang bersifat psikologis diantaranya :
a.         Sebagai calon guru, harus mempunyai pengetahuan dan pemahaman tentang dasar-dasar psikologi perkembangan dan perilaku  manusia.
b.         Mempunyai keterampilan minimal dalam  menggunakan teknik-teknik yang tepat untuk mempelajari kemampuan minat dan tingkat kesiapan belajar muridnya.
c.         Mampu  mempertimbangkan  nilai-nilai psikologik dari bermacam-macam prosedur mengajar.
d.        Dalam menganalisis dan meneliti cara belajar, kekuatan dan kelemahan belajarnya sendiri setelah mempelajari aspek-aspek psikologis dari pendidikan. (Mahmud, 1989).
Berdasarkan uraian tersebut, tampak penting aspek-aspek psikologis dari pendidikan bagi seorang guru maupun calon guru, sehingga dengan mempelajari psikologi pendidikan, seorang calon guru dapat memaksimalkan untuk meningkatkan peranan guru dan ketercapaiannya proses belajar mengajar.




BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan
Psikologi Pendidikan adalah cabang dari ilmu psikologi yang mengkhususkan diri pada cara memahami pengajaran dan pembelajaran dalam lingkungan pendidikan.
Keberhasilan seorang guru dalam mengajar sangat berkaitan dengan penguasaan sains serta seni dan keahlian mengajarnya.
Psikologi pendidikan merupakan sumbangsih dari ilmu pengetahuan psikologi terhadap dunia pendidikan dalam kegiatan pendidikan pembelajaran, pengembangan kurikulum, proses belajar mengajar, sistem evaluasi, dan layanan konseling merupakan serta beberapa kegiatan utama dalam pendidikan terhadap peserta didik, pendidik, orang tua, masyarakat dan pemerintah agar tujuan pendidikan dapat tercapai secara sempurna dan tepat guna.

B.       Saran
Setelah membacanya makalah yang penulis buat, bagi setiap orang terutama calon guru agar dapat memahami aspek-aspek psikologis dari pendidikan, mempelajari psikologi pendidikan dan dapat memaksimalkan untuk meningkatkan peranan guru dan ketercapaiannya proses belajar mengajar dan menjadikan guru profesional.





DAFTAR PUSTAKA

Islamuddin  Haryu.2011.Pikologi Pendidikan.Yogyakarta:Pustaka Belajar.
http://id.wikipedia.org/wiki/Psikologi_pendidikan (diakses tanggal 8 Desember 2012).





 




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar